GUNUNGKIDUL –www.ungkap realita. Com.
Dinamika internal Partai Golkar Kabupaten Gunungkidul kembali menjadi sorotan publik. Mundurnya jadwal Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Gunungkidul memunculkan beragam spekulasi dan pertanyaan di kalangan kader maupun simpatisan partai berlambang pohon beringin tersebut.
Sejumlah kalangan menilai, tarik-ulur pelaksanaan Musda berpotensi menimbulkan kesan bahwa roda organisasi partai justru tersandera kepentingan segelintir elite politik. Kondisi ini dikhawatirkan menghambat proses regenerasi kepemimpinan dan kaderisasi di tubuh Golkar Gunungkidul.
Keresahan tersebut bukan tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, sejumlah kader akar rumput, pengurus tingkat kecamatan, hingga simpatisan Golkar menyuarakan keprihatinan atas ketidakjelasan pelaksanaan Musda.
Mereka mendesak agar agenda demokrasi internal partai segera dilaksanakan sesuai mekanisme organisasi dan AD/ART Partai Golkar.
Bagi mereka, Musda bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum penting untuk menentukan arah masa depan partai sekaligus memberikan ruang bagi kader-kader potensial untuk berkompetisi secara sehat.
RATNO PINTOYO: SUARA AKAR RUMPUT JANGAN DIANGGAP GERAKAN KANDIDAT
Pengamat kebijakan publik sekaligus penasihat Partai Golkar Gunungkidul, Ratno Pintoyo, menyampaikan pandangan senada.
Ia menilai keresahan yang disuarakan kader tingkat bawah merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan organisasi.
Menurut Ratno, aspirasi yang muncul dari kader Golkar tingkat kecamatan dan simpatisan merupakan inisiatif murni dari bawah, bukan gerakan yang ditunggangi kandidat tertentu yang berambisi maju sebagai pimpinan Golkar Gunungkidul.
“Suara kader tingkat bawah dan simpatisan ini merupakan bentuk keresahan terhadap kondisi organisasi yang terkesan terus diulur-ulur tanpa kejelasan. Itu inisiatif kader sendiri, bukan karena ditunggangi kandidat yang ingin maju sebagai pimpinan Golkar Gunungkidul,” ungkap Ratno Pintoyo saat ditemui di kediamannya.
Lebih lanjut, Ratno menyayangkan apabila sejumlah elite partai di daerah justru lebih condong mendengarkan aspirasi segelintir orang dibandingkan memperhatikan suara kader akar rumput yang selama ini menjadi bagian penting dari kekuatan partai.
Menurutnya, kekuatan Golkar tidak boleh hanya bertumpu pada kepentingan elite dan perebutan posisi strategis. Partai harus tetap berpijak pada semangat kebersamaan, pengabdian, serta keberpihakan kepada masyarakat.
JANGAN KORBANKAN KADERISASI DEMI KEPENTINGAN KELOMPOK
Persoalan Musda Golkar Gunungkidul kini menjadi ujian kedewasaan demokrasi internal partai. Jika aspirasi kader bawah terus diabaikan, bukan tidak mungkin kepercayaan terhadap mekanisme organisasi akan semakin terkikis.
Musda seharusnya menjadi ruang demokrasi untuk melahirkan kepemimpinan baru yang memiliki legitimasi, bukan justru menjadi sumber kegelisahan berkepanjangan.
Golkar membutuhkan regenerasi, soliditas, dan keterbukaan. Jangan sampai kepentingan mempertahankan jabatan justru mengalahkan kepentingan membesarkan partai.
Pesan Ratno Pintoyo cukup tegas: “Golkar maju bersama rakyat.”
Sebuah pesan yang sekaligus menjadi pengingat bahwa partai politik tidak boleh melupakan kader-kader di tingkat bawah yang selama ini bekerja menjaga eksistensi dan membesarkan nama partai.
Kini publik menunggu, kapan Musda Golkar Gunungkidul benar-benar dilaksanakan? Mampukah para elite partai mendengar suara akar rumput, atau justru polemik penundaan ini akan terus menjadi babak panjang dalam dinamika internal Partai Golkar Gunungkidul?
Redaksi ungkap realita. Com
Mbh mar

