WONOSARI, — .Pilkada Gunungkidul
diperkirakan baru akan digelar pada 2031. Namun, dinamika politik menuju pesta demokrasi lima tahunan tersebut mulai menghangat. Nama-nama tokoh yang berpotensi masuk bursa calon kepala daerah bahkan sudah mencuat ke permukaan.
Sorotan bermula dari candaan politik Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, saat menghadiri acara Tirakatan HUT ke-62 Partai Golkar di Kantor DPD Partai Golkar, Jalan Kesatrian, Wonosari, Senin (19/10/2026).
Di hadapan kader Golkar, Endah secara terbuka menyebut dua tokoh yang berkelakar siap berkoalisi dan mendampinginya untuk periode kedua. Keduanya adalah Ketua DPD Partai NasDem Gunungkidul, Suharno, SE, dan anggota DPRD DIY dari Fraksi PKB, Timbul Suryanto.
Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian karena Pilkada Gunungkidul 2031 masih cukup jauh. Meski demikian, perbincangan mengenai kemungkinan koalisi dan pasangan calon kepala daerah sudah mulai mewarnai dinamika politik lokal.
“Meski dulu sempat diragukan menang dalam Pilkada, karena mantan Ketua DPRD gagal terpilih saat maju di Pemilihan Legislatif, saat ini saya agak pede. Ada tokoh-tokoh hebat Gunungkidul yang siap koalisi dan mendampingi saya di periode kedua, yaitu NasDem, Bapak Suharno, dan Bapak Timbul Suryanto,” kelakar Endah.
TIMBUL SURYANTO: SAYA MASIH FOKUS BEKERJA UNTUK RAKYAT
Menanggapi namanya yang ikut disebut dalam candaan tersebut, Timbul Suryanto memilih merespons dengan santai. Ia menegaskan belum memikirkan pencalonan pada Pilkada mendatang.
“He he he, hanya bercanda. Saya belum berpikir sejauh itu. Saya masih fokus bekerja untuk masyarakat Gunungkidul dan membawa program aspirasi masyarakat Gunungkidul. Ya, pokoknya belum terpikir ke arah sana,” tegas Timbul.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa penyebutan namanya belum dapat dimaknai sebagai kesepakatan politik atau deklarasi pencalonan.
SUHARNO: POLITIK ITU DINAMIS, SEMUA TERGANTUNG PARTAI
Sementara itu, Ketua DPD Partai NasDem Gunungkidul, Suharno, SE, memberikan tanggapan yang lebih terbuka mengenai kemungkinan politik pada masa mendatang.
Menurutnya, politik bersifat dinamis. Candaan yang muncul dalam forum politik belum tentu berujung pada keputusan serius.
“Politik itu dinamis, candaan bisa terjadi, serius belum tentu terjadi. Perkara besok mau nyalon bupati ataupun bersama Bu Endah mewakilinya masih dalam tahap komunikasi politik, semua tergantung penentu partai,” ujar Suharno.
Ia menegaskan bahwa dirinya tetap mempersiapkan diri menghadapi kompetisi politik mendatang. Namun, mengenai posisi dan langkah politik yang akan diambil, semuanya masih membutuhkan proses.
“Yang jelas saya mempersiapkan diri untuk kompetisi di pemilu mendatang. Hidup adalah perbuatan, jalan berbuat untuk rakyat perlu proses dan perjuangan pasti,” imbuhnya.
Pernyataan Suharno mengisyaratkan bahwa komunikasi politik masih terbuka. Meski begitu, belum ada kepastian mengenai pasangan calon maupun dukungan partai untuk Pilkada Gunungkidul 2031.
ENDah BERHARAP GOLKAR KEMBALI MENGUSUNGNYA
Tak hanya menyebut Suharno dan Timbul, dalam forum yang sama Endah juga menyampaikan harapannya agar Partai Golkar kembali mengusung dirinya pada Pilkada mendatang.
Ia berharap dukungan tersebut tetap terjaga, siapa pun yang nantinya terpilih menjadi Ketua DPD Partai Golkar Gunungkidul.
Menariknya, Endah juga mendorong Golkar untuk menyiapkan kader internal sebagai calon pendampingnya.
Sejumlah nama kader yang disebut memiliki potensi di antaranya Gunawan, SE, Singgih Mudianto, Anti Kumalasari, Bowo, dan Ery Agustin.
“Saya harapkan dalam Pilkada nanti saya masih diusung kembali oleh Partai Golkar, siapapun nanti Ketua DPD Golkar terpilih. Golkar juga memajukan kadernya sendiri untuk dipasangkan dengan saya,” pungkas Endah.
PILKADA 2031, PERSAINGAN POLITIK MULAI TERBACA?
Candaan Endah tersebut membuka ruang perbincangan mengenai arah politik Gunungkidul pada periode mendatang. Di satu sisi, ada nama Suharno dan Timbul yang disebut sebagai tokoh potensial untuk mendampinginya. Di sisi lain, Endah juga berharap Golkar menyiapkan kader internal untuk mengisi posisi calon wakil bupati.
Namun, jalan menuju Pilkada 2031 masih panjang. Keputusan mengenai pencalonan, pasangan kepala daerah, dan koalisi partai akan bergantung pada dinamika politik serta mekanisme internal masing-masing partai.
Untuk saat ini, pernyataan yang muncul dalam acara Golkar tersebut masih sebatas candaan dan penjajakan politik, bukan deklarasi pasangan calon.
Meski demikian, satu hal mulai terlihat: peta komunikasi politik menuju Pilkada Gunungkidul 2031 berpotensi menjadi perhatian sejak jauh hari sebelum tahapan pemilihan dimulai.
Redaksi ungkap reslita
Mbh mar

